Bonus demografi adalah kondisi di mana jumlah masyarakat yang berusia produktif lebih banyak dibandingkan yang sudah tidak produktif dalam ekonomi indonesia.
NKRI yang sekarang ini memasuki fase luar biasa ini, melebihi zaman-zaman sebelumnya punya berbagai manfaat yang bisa menjadikannya kelebihan daripada negara-negara lainnya, khususnya negara yang memang mengalami kekurangan tenaga kerja secara drastis.
Meski begitu, hal ini harus dipadankan dengan kualitas SDM-nya. Sebab bila tidak demikian, justru resiko dan dampak negatiflah yang akan diperoleh. Lantas apa sajakah resikonya? Simak semuanya di sini!
4 Resiko Bonus Demografi Bagi Ekonomi Indonesia yang Patut Disadari

Indonesia memang tidak perlu takut kekurangan tenaga kerja seperti halnya Jepang dan negara-negara lainnya yang rasio kelahirannya rendah.
Meski begitu, bukan berarti juga Indonesia dengan bonus demografinya ini bersantai dan tidak mempersiapkan diri sebaik mungkin.
Sebab, jika tidak dibarengi dengan kesiapan SDM-nya, maka bukannya untung malah resiko atau dampak buruk yang akan didapatkan Indonesia pada perekonomiannya.
1. Meningkatnya Angka Pengangguran
Dengan jumlah populasi produktifnya yang sangat banyak di berbagai area, khususnya pada pulau-pulau tertentu, penting sekali untuk membarengi bonus demografi dengan kualitas SDM yang baik.
Sebab, jikalau usia produktifnya banyak, namun kualitasnya rendah, sama saja perekonomian tidak berkembang dengan baik karena mereka malah membuat angka pengangguran meningkat.
Pekerjaan tersedia namun masyarakatnya sendiri menganggur karena tidak mampu memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan dalam dunia kerja.
2. Kesenjangan Ekonomi Antar Masyarakat
Berlanjut dengan meningkatnya angka pengangguran, maka bonus demografi yang tidak dibarengi dengan kualitas SDM ini malah akan menimbulkan kesenjangan secara ekonomi.
Jarak antara kaum kelas atas atau kaya raya sangat jauh dengan yang miskin atau berekonomi rendah.
Meski belum terlihat sekarang, kesenjangan ekonomi ini punya resiko jangka panjang yang mana salah satunya membuat pendapatan perkapita negara turun serta pembukaan lapangan kerja terampil berkurang karena susahnya menemukan pekerja berkualitas.
3. Penduduk Menua
Memang benar bonus demografi itu adalah ledakan penduduk yang mana usia produktif lebih banyak dibandingkan yang tidak produktif.
Namun, bila mereka yang berusia produktif ini ternyata tidak punya kualifikasi dan menganggur, mereka ini pun pada akhirnya menua sembari menambah keturunan yang lalu membuat penduduk tua ini rasionya meningkat.
Dengan peningkatan rasio penduduk menua ini, ekonomi Indonesia akan semakin tidak baik-baik saja karena beban negara untuk biayai hidup mereka meningkat tajam, tapi pemasukan negara sedikit.
4. Meningkatnya Beban Jaminan Kesehatan dan Sosial
Dengan berbagai resiko yang sudah tertulis sebelumnya, hal yang paling merugikan dari bonus demografi ini pastinya adalah beban jaminan kesehatan dan sosial yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Sebenarnya tidak masalah jika beban jaminan ini bertambah asal dibarengi penambahan pemasukan lewat banyaknya masyarakat usia produktif yang sudah bekerja. Namun bila tidak begitu, yang ada justru pengeluaran bahkan utang negara membengkak.
Jika dibiarkan, lama-kelamaan negara yang sudah tidak mampu lagi bisa-bisa rugi besar hingga menjadi bangkrut dan dipenuhi oleh kemiskinan. Bahkan, kejahatan pun akan meningkat apabila hal ini terjadi di dalam kehidupan.
Jadi, itulah berbagai resiko buruk bonus demografi bagi ekonomi Indonesia apabila hal itu tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas SDM yang siap dan mampu masuk ke dalam dunia kerja.
Memang menakutkan, namun itulah faktanya supaya pemerintah tidak cuek dan santai.



