Sebelum Indonesia terpilih sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB seperti sekarang, ternyata ada sejarah Indonesia pernah keluar dari keanggotaan PBB. Sejarah mencatat pada 7 Januari 1965, Soekarno sebagai perwakilan Indonesia menarik diri dari organisasi dunia ini.
Keputusan yang berani ini tentu tidak tanpa alasan. Apalagi di tengah gejolak politik, ekonomi dan sosial dalam dan luar negeri pada saat itu. Berikut alasan Indonesia keluar dari PBB yang menarik untuk diketahui!
Sejarah Indonesia Menarik: Alasan Indonesia Pernah Keluar dari PBB

Negara Indonesia pertama kali bergabung dengan PBB pada tanggal 27 September 1950, setelah mendapatkan pengakuan kemerdekaan atas Belanda. Di tengah masih carut marutnya kondisi politik dalam negeri, Indonesia masih berusaha baik untuk menjaga image di mata dunia.
Hingga pada saat keputusan kontroversial diambil oleh Presiden Soekarno dan membuat Indonesia mendapatkan fokus dari berbagai mata dunia. Inilah alasan Indonesia memisahkan diri dari PBB pada tahun 1965:
1. Konflik dengan Malaysia
Sejarah Indonesia keluar dari PBB bermula dari konflik dengan negara Malaysia. Soekarno menganggap pembentukan negara Federasi Malaysia yang menjadi “negara boneka” dari Inggris dapat mengancam stabilitas kemerdekaan di Asia Tenggara.
Soekarno menganggap Malaysia adalah negara buatan Inggris yang ingin mengabadikan nilai kolonialisme di Asia. Melalui konflik inilah ada istilah “Ganyang Malaysia” yang masih terkenal hingga sekarang.
PBB yang mendukung kemerdekaan Malaysia membuat Soekarno merasa nilai-nilai objektif dan netral sudah tidak lagi dipegang organisasi dunia tersebut. Maka, keluar dari keanggotaan menjadi hal terakhir yang dilakukan oleh beliau.
2. Kepentingan Dalam Negeri Terancam
Pada saat itu, tercatat dalam sejarah Indonesia bahwa berbarengan dengan kondisi dalam negeri yang terancam. Pemerintahan Presiden Soekarno sedang diguncang isu pro-komunisme dan partai komunisme terbesar sedang melakukan pemberontakan.
Hal ini yang membuat kepentingan dan kondisi dalam negeri terancam, membuat pemerintahan Presiden Soekarno semakin tertekan dan perlu perbaikan yang terstruktur dan masif.
3. Ideologi Anti-Imperialisme
Presiden Soekarno terkenal dengan ideologi teguhnya yaitu anti imperialisme. Beliau melihat bahwa peran PBB yang seharusnya menjaga kedamaian di dunia pasca Perang Dunia II telah gagal mencapai target tersebut.
Malah, PBB hadir menjadi bentuk neo-kolonialisme baru dengan memosisikan negara-negara penjajah sebagai dewan tertinggi di organisasi ini. Hal ini yang membuat tekad Soekarno semakin bulat untuk keluar dari PBB yang tercatat dalam sejarah Indonesia.
4. Isu Irian Barat
Sengketa Irian Barat juga bukti nyata kegagalan PBB dalam menciptakan kedamaian negara. Presiden Soekarno melihat bahwa PBB masih mendukung Belanda atas urusan pembebasan wilayah Irian Barat ini.
Karena pada tahun 1962, PBB membuat Perjanjian New York yang isinya penyerahan Irian Barat oleh Belanda kepada UNTEA (United Nations Temporary Executive Authority) yang membuat pemerintah Indonesia tidak puas dengan keputusan tersebut.
5. Tidak Puas dengan Struktur PBB
Alasan terakhir adalah ketidakpuasan pemerintah Indonesia terhadap struktur PBB yang menurutnya masih pro dengan kolonialisme. Negara-negara dunia ketiga masih “dijajah” secara perlahan dan diambil kebebasannya untuk menciptakan perdamaian sendiri.
Sejarah Indonesia yang keluar dari keanggotaan PBB menjadi bentuk keberanian Presiden Soekarno untuk melawan berbagai jenis kolonialisme baru. Walaupun pada kenyataannya, tindakan ini menimbulkan kondisi yang tidak stabil di dalam negeri sendiri.
Demikianlah fakta menarik terkait keluarnya Indonesia dari keanggotaan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) di tahun 1965. Lalu, Indonesia masuk kembali menjadi anggota organisasi perdamaian dunia tersebut pada tanggal 18 September 1966.
Mengulik sejarah Indonesia memang selalu seru karena Anda dapat belajar dari peristiwa masa lalu. Terus menghargai dan melestarikan sejarah yang telah berlangsung, khususnya di Indonesia agar menjadi bijak di masa depan!



